Dadang Iskandar

Love U Forever

  • July 2008
    M T W T F S S
    « Jun   Aug »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Archives

  • Ads

  • Ads

Dilema hidup

Posted by dadangiskandar on July 4, 2008

Penderitaan Sang Ibu,

Ketika nafas tersenggal-senggal, tetangga berkumpul dan sebagian berkata,”Neng! Ikhlaskan dan pasrah kepada Pemilik kita, tentang anak-anak jangan dipikirkan”. Anggukan lemah menjawab pertanyaan para tetangga. Sebagian sedih melihat apa yang sedang dihadapi seseorang yang sedang berjuang menghadapi maut. Perut tertarik kedalam, napas kuat keluar menyembur dari mulut dan hidungnya. Tiada kata yang terungkap, setetes airpun untuk menghilangkan panas dan haus tidak dapat masuk pula.

Anak-anak menangis, tetangga menangis, setiap orang yang melihat menangis! Mengapa terjadi pergulatan dalam menghadapi maut, mengapa tidak terlihat senyum, bukan menahan rasa sakit yang terhingga. Mata melotot keluar, napas tersenggal-senggal, terjadi mulai adzan maghrib dan si Eneng baru menghadap ke hariban Illahi pada pagi hari. Tidakkah ini merupakan suatu perjalanan hidup???

Kembali ke delapan belas tahun yang silam, ketika si Eneng dalam pelukan seorang lelaki ganteng dari sebuah provinsi baru di Indonesia ini. Kasih sayang berdua dan saling berikrar janji untuk sehidup semati. Malang terjadi di perjalanan si Eneng dimadu oleh si Tampan. Sang Ayah tidak tega melihat hal tersebut biarpun si Eneng sangat mencintainya, namun si Ayah dengan kekuasaannya memaksa si Tampan untuk tidak lagi bersama sang Isteri, tega nian….. Dua anak dibawa si Eneng dan si Ayah dengan bangga dapat mengambil anak dan cucu-cucunya.

Sebagai seorang pejabat, mempunyai kekuasaan baik di rumah maupun di kantor, tetapi kadang-kadang lupa bahwa jiwa seseorang tidak dapat dikuasai oleh siapapun kecuali oleh Sang Khalik. Sang Ayah meninggal duluan dalam keadaan papa ditemukan tergolek tidak berdaya setelah pension dan tinggal di suatu kampung, terusir dari teman, saudara dan tetangga dimana dia pernah berkuasa di kota metropolitan.

Dengan dua anak bersama dan hidup dengan biaya orang tua dari pensiunan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu si Eneng telah berpulang ke rahmatullah lebih dulua dari sang Ayah. Hari demi hari mempertahankan hidup untuk keluarga, berjuang tanpa memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan kerja. Pindah dari satu rumah ke rumah lain sebagai pembantu. Oooh, nasib membawa puluhan sampai ratusan kilo kadang-kadang berjalan tidur di trotoar atau di terminal. Dan, …….. tidak berhasil malah pulang diantar dengan membawa penyakit tbc akut dan tidak ada harapan lagi.

Pengetahuan, Ketrampilan dan Perilaku merupakan satu kesatuan yang perlu dimiliki setiap individu untuk bertahan hidup di suatu negara yang belum mapan dan belum menaungi si miskin. Berapa banyak korban hidup akibat belum adanya perlindungan pemerintah kepada si miskin dan berapa banyak korban ketidakmampuan memiliki SKA (skill, knowledge, dan Attitude).

Pesan dari hati-nurani yang paling dalam, kepada yang mengetahui makna hidup, lebih seringlah berjalan di muka bumi untuk menemukan si Eneng-si Eneng dan keluarganya tadi, bagi pemerintah tingkatkanlah bangsa ini dengan SKA yang sejajar dengan bangsa lain. Keserakahan tidak ada artinya, bila secara makro bangsa ini miskin, tak berdaya, tidak tegak dan tegas menjalankan peraturan untuk melindungi bangsanya.

Kampung Akherat lebih bermakna dan indah dari pada kehidupan di muka bumi. Namun, syarat keindahan tersebut tergantung membentuk suatu kampung bumi yang indah.

Leave a Reply

 
%d bloggers like this: